Kamis, 25 Februari 2016

Yayasan Daarul Mushlihin Kendal

 
 
السلام ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والشكر لله على نعمة الله
اللهم صل على محمد وعلى اصحابه اجمعين : اما بعد
Yang Terhormat bapak ibu, saudara/i Rahimakumullah..
Hidup manusia pada zaman ini banyak yang kehilangan tujuan, sehingga perlu kiranya kita membangun kembali orientasi Hidup dengan apa yang tersisa dalam Hidup ini...
Sesuatu yang harus diperhatikan dan diyakini kedatangannya adalah kematian, sudahkah kita persiapkan kematian kita dengan ibadah, QS: Alhijri : 99
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
Ingatkah janji kita pada Allah...
Surat al-an'aam 162:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Tulisan atau ajakan ini bukan untuk kepentingan duniawi, tapi mari kita membuka peluang kehidupan untuk beramal sholeh
Selama kita masih hidup dimanapun dan kapan pun kita berada.
Hadist Rasulullah saw :
" مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ " . رَوَاهُ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ
Artinya: Barang siapa menunjukan sebuah kebaikan maka baginya nilai kebaikan sebagaimana yang mengerjakannya.
Banyak kesempatan emas akhirat yang menawarkan kita bergabung didalamnya, dari yayasan, pesantren bahkan majelis ilmu dan madrasah.
Kami Yayasan Daarul Mushlihin Kendal ikut berpartisipasi untuk membangun investasi ukhrowi kita dan mengajak semua kalangan untuk berjuang dijalan Allah.
* Tanah yang kami bangun diatas tanah wakaf karena Allah..
* Perjuangan yang kami lakukan untuk menegakkan Kalimatullah ditengah maraknya pemurtadan dan penyesatan.
* Tenaga yang mengelola hidup berorientasi karena Allah
* Lembaga ini di bangun bukan untuk kepentingan duniawi, bukan untuk mengumpulkan materi apalagi untuk kepentingan pribadi.
# rencana pengkaderan ( program abadi )
1. Membangun Pesantren al Quran dan Da'wah
2. Perguruan tinggi Da'wah
3. Membangun koperasi kemandirian
4. Pusat Kesehatan Umat
5. Islamic Center
# Rencana pembangunan Fisik
( 5 tahun pertama )
1. Kantor Yayasan Daarul Mushlihin ( Ada)
2. Masjid Arroudhoh 12 x 22 M( proses pembangunan tahap Akhir)
3. Aula Serbaguna 15 x 20 M ( perencanaan)
4. Ruang Asrama 10 lokal 2 lantai satu lantai 5 lokal @ lokal 5x5 meter.( perencanaan)
5. Ruang Kuliah Kelas sama dengan lokal asrama, (perencanaan)
6. Ruang perkantoran 3 lokal @ 5x5 Meter ( Perencanaan)
7. Kamar mandi 10 lokal :
2 km aula 3 km kampus, 5 km Asrama @ 2,5 x 2 Meter (Perencanaan)
8. Dapur Ruang Masak dan Makan 10x10 Meter ( Perencanaan)
9. Pembangunan sumur artesis ( ready to use)
Untuk saat ini Tanah yang ready to build sekitar 7200 Meter.
10. Perluasan tanah wakaf yayasan untuk pengembangan sarana dan prasarana..
Semoga Allah memudahkan Rencana ibadah ini, bagi antum yang ingin bergabung bisa datang ke lokasi:
Dukuh Jatinom, Desa Kalibogor, Kec Sukorejo Kab Kendal Jateng
Contact Person:
- 081213938786
- 081574057061
- 087870469316
Atau datang ke lokasi langsung bertemu Ust Ahmad Hidayatullah
No hp : 081380662906
Dengan Rekening:
BSM : 7024026943 an Ahmadi
BNI Syariah : 0104908141
an Ahmadi ( Pembina)
BRI. :7528-01-000618505 an Siti Baroroh ( Bendahara)
MANDIRI :136-00-14597857
an Siti Baroroh
Demikian program ini kami sampaikan semoga menjadi salah satu jalan Silaturrahim yang menjadikan jalan keistiqomahan dan jalan hidayat dan rahmat dari Allah.
Wassalaamu alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
..
Hormat kami
Ahmadi Usman
Pembina Yayasan
Daarul Mushlihin Kendal


Rabu, 24 Februari 2016

Umat yang Hebat, Janganlah Gentar!

Ahmad Musyaddad

Umat yang Hebat, Janganlah Gentar!
(suatu pesan dari mimbar Masjidil Haram)

Hari ini umat yang besar ini sedang berada dalam satu fase sejarah yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ujian datang silih berganti, derita terjadi di berbagai belahan bumi, perangkap dan makar musuh semakin buas, menyentuh segala lini, merasuk ke seluruh sendi kehidupan dan hampir menembus semua lapisan masyarakat. Fenomena ini menjadikan sebagian dari generasi umat ini terjebak pada belenggu kepasrahan dan sikap pesimis, putus asa menatap masa depan dan patah harap terhadap rahmat Allah.
Wahai umat yang hebat...
Kita musti ingat, bahwa Allah SWT di dalam banyak ayat mengingatkan kita tentang sikap teguh dan tegar, tidak lemah dan tidak putus asa, menatap tegak masa depan yang gemilang penuh kemenangan dan kejayaan. Allah berfirman, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [QS Aali-‘Imran (3): 139]
Umat ini tidak boleh bersikap lemah dan berputus asa. Umat ini tidak pantas menyerah dan berpangku tangan. Umat Nabi Muhammad saw tidak patut pesimis dan bersedih hati atas segala derita yang terjadi di belahan bumi kaum muslimin. Sebab, Allah sesungguhnya telah menetapkan kemenangan dan kejayaan bagi umat ini, cepat atau lambat. Betapa pun digdayanya dan angkuhnya orang-orang yang memusuhi Islam, maka sejarah telah mencatat betapa Allah telah meluluhlantakkan kekuatan besar yang pernah ada di muka bumi ini.
Umat ini tidak boleh gentar, karena Allah telah menetapkan baginya serangkaian keistimewaan yang tidak didapati oleh umat-umat lainnya. Kepada umat ini diutus manusia terbaik dalam sejarah peradaban manusia, Muhammad saw. Umat ini juga adalah umat yang paling mulia, sebagaimana Al-Qur’an menerangkan hal itu. Sekalipun umat ini adalah umat terakhir, namun kelak di hari kiamat, umat yang besar inilah yang akan pertama kali datang kepada Allah. Inilah umat yang paling terhormat dan paling mulia, sebagaimana sabda Nabi saw di dalam Musnad Ahmad dan Mu’jam Thabrani. Para Nabi pun seluruhnya akan meminta persaksian dari umat yang mulia ini bahwa mereka telah menunaikan tugas risalah mereka.
Kitalah umat yang dianugerahkan syari’at yang sarat kemudahan oleh Tuhan semesta alam. Cobalah kita renungkan, jika seseorang tidak mampu shalat dengan berdiri, dia dipersilahkan duduk. Jika tidak mendapat air, boleh bertayammum. Jika kita berada dalam perjalanan, sholat pun boleh kita qashar. Setiap belahan bumi adalah masjid bagi kita. Tidak ada kesulitan dan pengkultusan makhluk di dalam agama ini, tidak ada kecurangan dalam aturannya, tidak ada kezaliman dan tidak ada pandang bulu dalam setiap hukumnya, semua di hadapan Allah sama, yang membedakan hanya takwa.
Kita adalah umat yang besar...
Kepada umat ini diturunkan al-Qur’an yang terpelihara keasliannya. siapapun yang berusaha menggantinya, banyak maupun sedikit, maka ia akan dihinakan oleh Allah yang Maha Perkasa dan ia akan mendapatkan kerugian di dunia dan akhirat. Al-Qur’an yang kita pegang adalah panduan hidup yang memuat seluruh konsep dan solusi kehidupan, dari yang paling kecil hingga masalah yang paling krusial. Al-Qur’an mengajarkan kita segalanya. Mengajari kita bagaimana menghadapi masalah, bagaimana keluar dari belenggu persoalan dan bagaimana mensyukuri kemenangan dan memakmurkan muka bumi ini.
Umat yang hebat...
Allah memang mentakdirkan usia rata-rata umat ini paling sedikit jika dibandingkan dengan umat-umat terdahulu. Enam puluh hingga tujuh puluh biasanya. Akan tetapi umat inilah yang mendapatkan karunia keberkahan usia yang melampaui umat-umat yang lainnya. Dalam waktu yang singkat, umat ini mampu menggapai ilmu, wawasan dan pengalaman yang sama dengan yang diperoleh oleh umat terdahulu dalam masa yang sangat panjang. Betapa kita melihat peradaban yang penuh dengan prestasi dan manfaat bagi kemanusiaan, lahir dari rahim umat ini. Ini menunjukkan bahwa umat ini mendapatkan curahaan keberkahan dan kebaikan dari Allah SWT.
Selain keistimewaan itu, dengan usia singkat itu umat ini mampu mencapai bahkan melampaui prestasi-prestasi ibadah umat lainnya yang pernah datang sebelumnya. Kita memiliki shalat jama’ah yang dilipatgandakan pahalanya, bulan Ramadhan yang di dalamnya lailatul qadar, haji dan umrah sebagai penghapus dosa, syari’at wudhu’ yang menggugurkan kesalahan, bacaan al-Qur’an yang satu hurufnya bernilai sepuluh kebaikan dan banyak lagi yang lainnya.
Umat Islam...
Sebagai bentuk rahmat Allah kepada umat ini, Allah menyelamatkannya dari bencana yang dapat memusnahkannya sebagaimana bencana yang memusnahkan umat-umat terdahulu. Allah juga jadikan Ka’bah sebagai tumpuan dan tempat berlabuh kaum muslimin. Allah menjaga Syam dan Masjidil Aqsha yan mulia. Allah yang memelihara dan melindungi segenap negeri kaum muslimin, termasuk Indonesia. Maka yang pernah kita merasa gentar dengan semua makar dan manuver yang dibangun oleh musuh. Umat ini masih memiliki kebesarannya, dan ia akan tetap besar hingga Allah memutuskan perkara antara yang haq dan yang bathil.
Generasi Islam yang Tangguh...
Khairiyyah (menjadi umat terbaik) dengan segala maknanya bagi umat ini, ditetapkan oleh Allah di dalam KitabNya dan disampaikan oleh NabiNya di dalam banyak hadits. Dan itu semua bersifat pasti. Ia adalah sumber daya yang besar yang kita punya untuk membangun optimeisme, bahwa kita akan menang dan kita akan berjaya. Namun kejayaan dan kemenangan, makna khairiyah dan keberkahan, serta kemuliaan dan kebesaran, semuanya tergantung pada usaha dan upaya yang kita lakukan. Sebab segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Sebagaimana Maryam mendapatkan berbiji kurma, setelah menggoyang sepangkal pohonnya.
SEKIAN
Mekah, 3 Jumadal Ula 1437 H
Ahmad Musyaddad Lc, MEI

Kamis, 11 Februari 2016

Mari Bercerita

Ahmad Musyaddad


Mari Bercerita 

Adalah suatu kenangan tersendiri bagi saya, mungkin juga anda, saat-saat kecil bersama ayah, mendengar cerita sebelum tidur dan menyimak hikayat orang-orang hebat. Detik-detik itu terasa istimewa bagi kita. Dan hingga hari ini, sederet kisah itu lengkap dengan pesan moral yang dikandungnya masih melekat di benak setiap kita. Maka begi kita saat itu, ayah hebat itu adalah ayah yang tidak bosan bercerita sebelum mata kita terpejam. 

Ayah hebat, mari bercerita... 

Sebab bercerita adalah salah satu dari instrument pendidikan yang disepakati semua orang. Dengan cerita, kita dapat menanamkan nilai-niai positif di dalam benak anak. Selain itu, cerita juga akan merangsang otak anak untuk menciptakan rangkaian cita, mimpi dan asa di dalam dunia khayal mereka. Sehingga otak mereka akan bekerja secara aktif sejak mereka masih usia dini. 

Al-Qur’an sendiri yang menjadi pedoman hidup kita didominasi oleh cerita dan kisah dan cerita umat terdahulu. Di sana kita dapati kisah tentang orang-orang hebat, seperti Ibrahim, Musa, Luqman, Ashabul Kahfi, Dzul Qarnain dan sederet lagi nama-nama besar yang dicatat oleh al-Qur’an hingga Nabi Muhammad saw. Selain itu al-Qur’an juga bercerita tentang orang-orang jahat, zalim dan degil. Al-Qur’an ceritakan kezaliman fir’aun, kejahatan Namrud dan kedegilan Bani Israel. Sebagaimana juga al-Qur’an bercerita tentang makhluk Allah yang lain, seperti Hudhud, burung Ababil dan sebagainya  dengan bahasa yang luhur lagi sarat inspirasi. 

Mari bercerita... 

Karena jika kita amati  bagaimana Nabi Muhammad saw mendidik generasi terbaik yang pernah tampil di pentas peradaban manusia, kita akan jumpai bahwa Sang Nabi juga menggunakan metode bercerita sebagai bagian tak terpisahkan dari cara beliau membentuk para sahabat menjadi manusia-manusia hebat. Beliau bercerita tentang si penjagal yang bertaubat sebagai ibroh, agar kita tiada putus asa dari rahmat Allah. Beliau riwayatkan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua sebagai pelajaran, agar umatnya tahu cara keluar dari masalah. Beliau juga pernah bercerita tentang si Buta dan kawan-kawannya, agar kita cerdas mensyukuri karunia Ilahi. 

Tradisi bercerita ini kemudian tetap lestari dari generasi ke generasi, dari para sahabat ke tabi’in, kemudian berlanjut kepada anak dan cucu mereka. Mereka ceritakan riwayat hidup manusia pilihan Allah, Nabi Muhammad bin Abdullah saw. Dengan bangga mereka ulang-ulangi bercerita tentang kehidupan yang heroik itu, tentang kesabaran dan kesederhanaan, tentang keberanian dan pengorbanan, tentang cinta dan kasih sayang, tentang segala makna kebaikan dalam diri Rasulullah saw kepada anak-anak mereka.  

Mari kita simak penuturan cucu-cucu sahabat Nabi saw, seperti yang ditulis oleh Ibnu katsir di dalam al-Bidayah wa an-Nihayah. Isma’il bin Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash, cucu dari salah seorang sahabat Nabi saw, Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Dahulu, ayahku menceritakan kepada kami sirah Nabi saw dan mengulang-ulanginya kepada kami. Dan beliau berpesan, ini adalah warisan leluhur kalian, maka jangan sekali-kali kalian lalai mengingatnya.” Sementara Ali bin al-Husain, cucu dari sahabat Nabi saw, Ali bin Abi Thalib mengungkapkan, “Dahulu kami mengajarkan sirah Nabi saw, seperti kami mengajarkan al-Qur’an.” Demikian itu karena di dalam kehidupan Nabi saw, seperti kata Imam az-Zuhri, terdapat ilmu akhirat dan ilmu dunia. 

Mari kita bercerita...  

Karena zaman terus berputar. Ayah dan bunda sudah lebih didominasi oleh aktivitas kerja dan karir dibandingkan menemani si kecil bercerita. Kesibukan di luar rumah, entah kerja, karir, mencari nafkah, agenda dakwah dan lainnya membuat kita pulang hanya membawa peluh dan lelah, hingga kita lupa ada hak mereka yang harus kita penuhi 
Krisis bercerita ini, mendatangkan dampak zamannya yang sangat buruk. Anak-anak yang tidak pernah mendapatkan cerita, tidak dekat dengan ayahnya dan jarang mendapatkan sentuhan mereka, akan cenderung mencari cerita yang instan. Pada saat yang sama, kita jumpai seabrek sarana berbagi cerita, seperti televisi, gadget, playstation, teman main dan orang lain. Pertanyaannya, apakah kita mampu menjamin anak kita akan mendapatkan asupan cerita yang positif dari sarana-sarana itu jika mereka tidak dituntun?  

Justeru dari sinilah bermulanya masalah pelik yang menimpa anak-anak di negeri tercinta ini. Tahun lalu, kita dikejutkan oleh satu berita yang mengabarkan anak TK usia 5 tahun nekad loncat dari sebuah apartemen lantai 19, gara-gara tidak diizinkan ibunya menonton Spiderman. Belum lagi kriminalitas yang dilakoni oleh anak-anak di bawah umur, kasus penyimpangan seksual, tindakan asusila, cara bicara dan bersikap, life style yang mengekor gaya orang-orang yang tidak dirahmati Allah. La haula wala quwwata illa billah... 

Ayah mari bercerita... 

Karena dengan bercerita kita mampu menyentuh dinding-dinding hati anak-anak kita. Mengulang-ulang suatu kisah adalah cara kita menekankan suatu nilai tertentu sesuai dengan muatan moral kisah tersebut, kata Jim Trelease.  

Ceritakan kepada mereka apa yang dahulu diceritakan oleh generasi terbaik umat ini. Tentang pengorbanan Nabi Kita saw. Tentang kasih sayang dan cinta beliau kepada umat ini. Tentang kehebatan orang-orang yang membersamai beliau di jalan dakwah yang terjal. Riwayatkan kepada mereka tentang Abu Bakar dan Umar, tentang Utsman dan Ali, tentang Asma’ dan saudarinya Aisyah Ummul Mu’minin. Tentang orang-orang sholeh yang mampu menggenggam dunia sehingga tidak menguasai hati-hati mereka. Ceritakan tentang masa lalu sebagai bekal hari ini dan untuk membangun hari esok. 

Selamat Bercerita.... 

Salam dari serambi Masjidil Haram 
Ahmad Musyaddad Lc, MEI

Jumat, 29 Januari 2016

Pelajaran Dari Hamra’ul Asad

Ahmad Musyaddad
 
Pelajaran Dari Hamra’ul Asad
(catatan kecil dari mimbar Masjidil Haram)

Banyak orang yang tahu tentang kisah Uhud. Tentang kekalahan yang dialami oleh kaum muslimin di bukit itu. Tentang darah yang mengalir dari pelipis Nabi dan remuknya geraham beliau. Ya. Tentang pasukan yang tidak taat dengan arahan komandan mereka di medan perang. Dan tentang sahabat-sahabat mulia yang berguguran menjadi syuhada, diimami oleh paman Nabi tercinta, Hamzah bin Abdul Muththalib.
Hari ini, dari mimbar Masjidil Haram saya dapat mendengar kembali lanjutan kisah Uhud yang legendaris itu. Satu babak baru dari kehidupan heroik sang Nabi beserta para sahabatnya yang mulia. Hari yang disebut oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an dengan kisah orang-orang yang tiada peduli dengan perih luka mereka saat panggilan Allah dan RasulNya datang (3:172). Itulah perang Hamra’ul Asad. Episode baru, sehari setelah kekalahan uhud yang banyak orang tidak tahu.
Setelah hari Uhud berlalu, dengan segala kepiluan dan luka, di mana di medan itu terbunuh tujuh puluh sahabat Nabi yang mulia. Kaum Musyrikin merasa mereka telah meluluhlantakkan pondasi-pondasi kekuatan kaum muslimin. Di saat itu Nabi saw merasa sangat khawatir kaum musyrikin akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menggempur Madinah yang di sana ada anak-anak, kaum wanita dan harta benda mereka.
Setelah menunaikan shalat shubuh bersama para sahabat, Nabi saw memerintahkan Bilal untuk mengumumkan kepada para sahabat yang kemarin ikut berperang untuk mengejar kaum musyrikin. Untuk aksi ini, yang boleh ikut serta hanya mereka yang kemarin bergabung bersama pasukan Uhud, kata sang Nabi. Anda bisa membayangkan betapa beratnya tugas ini. Mereka baru melepas penat, darah masih basah dan perih itu masih terasa lekat di tubuh mereka, tiba-tiba mereka mendapat perintah untuk angkat senjata kembali. Allahu Akbar..
Saat mendengar perintah Nabi saw yang dikumandang Bilal itu, Sa’ad bin Muadz segera beranjak menuju kaumnya untuk memberitahu mereka agar memakai kembali pakaian perang. Sa’ad berkata, “Aku menyaksikan darah di tubuh mereka masih merah. Mayoritas Bani Asyhal terluka, bahkan semuanya.” Ketika itu juga, Usaid bin Hudhair yang sedang didera tujuh luka bangkit dan berkata, “Aku menyambut seruan Allah dan RasulNya” lalu ia ambil senjatanya tanpa peduli dengan perih luka yang ia derita. Sa’ad bin Ubadah juga segera mendatangi kaumnya, dan mereka pun menyambut dengan sigap. Demikian juga Abu Ubadah, datang kepada kaumnya yang sedang mengobati luka-luka mereka, dan mereka pun bersegera menyambut panggilan Allah dan rasulNya tanpa peduli luka-luka yang menganga itu.
Salah seorang perawi kisah ini menyebutkan, dari Bani Salimah keluar empat puluh orang yang sedang mengalami cedera berat, ada Thufail bin Nu’man yang membawa tiga belas lukanya, ada Bakhrasy bin ash-Shamah dengan derita sepuluh luka, Ka’b bin Malik mengalami belasan luka, begitu juga Quthbah bin Amir ada sembilan luka. Mereka berkumpul bershaf menghadap Nabi saw di Bi’r Abi ‘Anabah di puncak Tsaniyah, lengkap dengan pedang dan semangat mereka yang membara. Ketika melihat kondisi mereka, dengan darah yang masih basah dan luka yang masih merah, sang Nabi bersabda dengan penuh rasa, “Ya Allah, sayangilah Bani Salimah.”
Saat menyampaikan doa Nabi di atas, Khatib terhenti. Tak kuat beliau membendung isak tangis. Demikian juga sesiapa yang mengerti betapa manusia-manusia mulia itu sangat sigap dengan panggilan Allah dan rasulNya akan terisak. Ya Allah.. sayangilah kami dan sebagaimana Engkau menyayangi sahabat nabiMu.
Al-Waqidi juga menceritakan tentang manusia-manusia hebat itu. Mereka adalah dua bersaudara Abdullah bin Sahl dan Rafi’ bin Sahl bin Abdul Asyhal. Keduanya pulang dari Uhud dengan luka serius. Namun, ketika besoknya mereka mendengar kabar jihad dikumandangkan kembali, berkata salah seorang di antara keduanya kepada yang lain, “Demi Allah, jika kita tidak ikut berperang bersama Rasulullah sungguh kita sangat merugi. Namun apa daya kita tidak punya tunggangan, lalu bagamana ini?” saudaranya berkata “Mari kita berangkat” yang lain menjawab, “Demi Allah, Aku tidak dapat berjalan dengan baik.” Saudaranya berkata, “Baiklah, kita berjalan pelan-pelan” maka mereka berdua berjalan tertatih-tatih. Ketika Rafi’ merasa tidak kuat, saudaranya menggendongnya. Dan ketika Abdullah merasakan payah, maka giliran Rafi’ yang menggendong, hingga mereka sampai di camp Nabi di waktu isya. Ketika melihat dua sahabatnya ini, beliaupun mendoakan kebaikan bagi mereka. subhanallah...
Nabi keluar bersama mereka dalam kondisi masih cedera berat, tubuh beliau terluka, kening beliau masih bersimbah luka dan geraham beliau hancur. Beliau dan para sahabat membuat camp di daerah Hamra’ul Asad dengan perbekalan yang seadanya. Namun demikian, semangat yang terpancar dari aura sang Nabi dapat ditangkap jelas oleh para sahabat bahwa itu pertanda kemenangan yang semakin dekat. Di suatu kesempatan beliau bertutur kepada Thalhah, “Wahai Thalah, sunggu mereka tidak akan mampu menaklukkan kita seperti kemarin sampai Allah mengizinkan kita menaklukkan Mekah kelak.”
Hamra’ul Asad adalah saksi sejarah tentang keahlian Nabi saw dalam merancang strategi perang. Siang hari, beliau perintahkan para sahabat untuk mengumpulkan kayu bakar. Kemudia pada malam hari, setiap prajurit harus membuat api unggun. Maka pada malam itu, terjadilah parade api unggun yang jumlahnya sampai lima ratus api unggun. Kepulan asap dan nyala api yang dahsyat ini yang dikirim oleh Allah sehingga menggentarkan kaum musyrikin yang sejak kemarin masih beristirahat di daerah Rauha’. Menyaksikan kobaran api itu, kaum musyrikin yang sama sekali tidak pernah berpikir akan dikejar dan dalam kondisi sangat tidak siap, akhirnya melarikan diri ke Mekkah.
Hamra’ul Asad, kisah keberanian dan keteguhan. Hamra’ul Asad adalah cerita tentang pengorbanan dan kesigapan. Hamra’ul Asad adalah riwayat tentang strategi dan ketawakkalan. Hamra’ul asad, di sana ada manusia-manusia mulia yang jauh lebih mencintai Akhirat dibanding dunia yang fana. SEKIAN
Mekkah, 19 Rabi’u tsani 1437 H

Ahmad Musyaddad