Kamis, 11 Februari 2016

Mari Bercerita

Ahmad Musyaddad


Mari Bercerita 

Adalah suatu kenangan tersendiri bagi saya, mungkin juga anda, saat-saat kecil bersama ayah, mendengar cerita sebelum tidur dan menyimak hikayat orang-orang hebat. Detik-detik itu terasa istimewa bagi kita. Dan hingga hari ini, sederet kisah itu lengkap dengan pesan moral yang dikandungnya masih melekat di benak setiap kita. Maka begi kita saat itu, ayah hebat itu adalah ayah yang tidak bosan bercerita sebelum mata kita terpejam. 

Ayah hebat, mari bercerita... 

Sebab bercerita adalah salah satu dari instrument pendidikan yang disepakati semua orang. Dengan cerita, kita dapat menanamkan nilai-niai positif di dalam benak anak. Selain itu, cerita juga akan merangsang otak anak untuk menciptakan rangkaian cita, mimpi dan asa di dalam dunia khayal mereka. Sehingga otak mereka akan bekerja secara aktif sejak mereka masih usia dini. 

Al-Qur’an sendiri yang menjadi pedoman hidup kita didominasi oleh cerita dan kisah dan cerita umat terdahulu. Di sana kita dapati kisah tentang orang-orang hebat, seperti Ibrahim, Musa, Luqman, Ashabul Kahfi, Dzul Qarnain dan sederet lagi nama-nama besar yang dicatat oleh al-Qur’an hingga Nabi Muhammad saw. Selain itu al-Qur’an juga bercerita tentang orang-orang jahat, zalim dan degil. Al-Qur’an ceritakan kezaliman fir’aun, kejahatan Namrud dan kedegilan Bani Israel. Sebagaimana juga al-Qur’an bercerita tentang makhluk Allah yang lain, seperti Hudhud, burung Ababil dan sebagainya  dengan bahasa yang luhur lagi sarat inspirasi. 

Mari bercerita... 

Karena jika kita amati  bagaimana Nabi Muhammad saw mendidik generasi terbaik yang pernah tampil di pentas peradaban manusia, kita akan jumpai bahwa Sang Nabi juga menggunakan metode bercerita sebagai bagian tak terpisahkan dari cara beliau membentuk para sahabat menjadi manusia-manusia hebat. Beliau bercerita tentang si penjagal yang bertaubat sebagai ibroh, agar kita tiada putus asa dari rahmat Allah. Beliau riwayatkan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua sebagai pelajaran, agar umatnya tahu cara keluar dari masalah. Beliau juga pernah bercerita tentang si Buta dan kawan-kawannya, agar kita cerdas mensyukuri karunia Ilahi. 

Tradisi bercerita ini kemudian tetap lestari dari generasi ke generasi, dari para sahabat ke tabi’in, kemudian berlanjut kepada anak dan cucu mereka. Mereka ceritakan riwayat hidup manusia pilihan Allah, Nabi Muhammad bin Abdullah saw. Dengan bangga mereka ulang-ulangi bercerita tentang kehidupan yang heroik itu, tentang kesabaran dan kesederhanaan, tentang keberanian dan pengorbanan, tentang cinta dan kasih sayang, tentang segala makna kebaikan dalam diri Rasulullah saw kepada anak-anak mereka.  

Mari kita simak penuturan cucu-cucu sahabat Nabi saw, seperti yang ditulis oleh Ibnu katsir di dalam al-Bidayah wa an-Nihayah. Isma’il bin Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash, cucu dari salah seorang sahabat Nabi saw, Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Dahulu, ayahku menceritakan kepada kami sirah Nabi saw dan mengulang-ulanginya kepada kami. Dan beliau berpesan, ini adalah warisan leluhur kalian, maka jangan sekali-kali kalian lalai mengingatnya.” Sementara Ali bin al-Husain, cucu dari sahabat Nabi saw, Ali bin Abi Thalib mengungkapkan, “Dahulu kami mengajarkan sirah Nabi saw, seperti kami mengajarkan al-Qur’an.” Demikian itu karena di dalam kehidupan Nabi saw, seperti kata Imam az-Zuhri, terdapat ilmu akhirat dan ilmu dunia. 

Mari kita bercerita...  

Karena zaman terus berputar. Ayah dan bunda sudah lebih didominasi oleh aktivitas kerja dan karir dibandingkan menemani si kecil bercerita. Kesibukan di luar rumah, entah kerja, karir, mencari nafkah, agenda dakwah dan lainnya membuat kita pulang hanya membawa peluh dan lelah, hingga kita lupa ada hak mereka yang harus kita penuhi 
Krisis bercerita ini, mendatangkan dampak zamannya yang sangat buruk. Anak-anak yang tidak pernah mendapatkan cerita, tidak dekat dengan ayahnya dan jarang mendapatkan sentuhan mereka, akan cenderung mencari cerita yang instan. Pada saat yang sama, kita jumpai seabrek sarana berbagi cerita, seperti televisi, gadget, playstation, teman main dan orang lain. Pertanyaannya, apakah kita mampu menjamin anak kita akan mendapatkan asupan cerita yang positif dari sarana-sarana itu jika mereka tidak dituntun?  

Justeru dari sinilah bermulanya masalah pelik yang menimpa anak-anak di negeri tercinta ini. Tahun lalu, kita dikejutkan oleh satu berita yang mengabarkan anak TK usia 5 tahun nekad loncat dari sebuah apartemen lantai 19, gara-gara tidak diizinkan ibunya menonton Spiderman. Belum lagi kriminalitas yang dilakoni oleh anak-anak di bawah umur, kasus penyimpangan seksual, tindakan asusila, cara bicara dan bersikap, life style yang mengekor gaya orang-orang yang tidak dirahmati Allah. La haula wala quwwata illa billah... 

Ayah mari bercerita... 

Karena dengan bercerita kita mampu menyentuh dinding-dinding hati anak-anak kita. Mengulang-ulang suatu kisah adalah cara kita menekankan suatu nilai tertentu sesuai dengan muatan moral kisah tersebut, kata Jim Trelease.  

Ceritakan kepada mereka apa yang dahulu diceritakan oleh generasi terbaik umat ini. Tentang pengorbanan Nabi Kita saw. Tentang kasih sayang dan cinta beliau kepada umat ini. Tentang kehebatan orang-orang yang membersamai beliau di jalan dakwah yang terjal. Riwayatkan kepada mereka tentang Abu Bakar dan Umar, tentang Utsman dan Ali, tentang Asma’ dan saudarinya Aisyah Ummul Mu’minin. Tentang orang-orang sholeh yang mampu menggenggam dunia sehingga tidak menguasai hati-hati mereka. Ceritakan tentang masa lalu sebagai bekal hari ini dan untuk membangun hari esok. 

Selamat Bercerita.... 

Salam dari serambi Masjidil Haram 
Ahmad Musyaddad Lc, MEI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar