Ahmad Musyaddad
Mari Bercerita
Adalah
suatu kenangan tersendiri bagi saya, mungkin juga anda, saat-saat kecil
bersama ayah, mendengar cerita sebelum tidur dan menyimak hikayat
orang-orang hebat. Detik-detik itu terasa istimewa bagi kita. Dan hingga
hari ini, sederet kisah itu lengkap dengan pesan moral yang
dikandungnya masih melekat di benak setiap kita. Maka begi kita saat
itu, ayah hebat itu adalah ayah yang tidak bosan bercerita sebelum mata
kita terpejam.
Ayah hebat, mari bercerita...
Sebab
bercerita adalah salah satu dari instrument pendidikan yang disepakati
semua orang. Dengan cerita, kita dapat menanamkan nilai-niai positif di
dalam benak anak. Selain itu, cerita juga akan merangsang otak anak
untuk menciptakan rangkaian cita, mimpi dan asa di dalam dunia khayal
mereka. Sehingga otak mereka akan bekerja secara aktif sejak mereka
masih usia dini.
Al-Qur’an
sendiri yang menjadi pedoman hidup kita didominasi oleh cerita dan
kisah dan cerita umat terdahulu. Di sana kita dapati kisah tentang
orang-orang hebat, seperti Ibrahim, Musa, Luqman, Ashabul Kahfi, Dzul
Qarnain dan sederet lagi nama-nama besar yang dicatat oleh al-Qur’an
hingga Nabi Muhammad saw. Selain itu al-Qur’an juga bercerita tentang
orang-orang jahat, zalim dan degil. Al-Qur’an ceritakan kezaliman
fir’aun, kejahatan Namrud dan kedegilan Bani Israel. Sebagaimana juga
al-Qur’an bercerita tentang makhluk Allah yang lain, seperti Hudhud,
burung Ababil dan sebagainya dengan bahasa yang luhur lagi sarat
inspirasi.
Mari bercerita...
Karena
jika kita amati bagaimana Nabi Muhammad saw mendidik generasi terbaik
yang pernah tampil di pentas peradaban manusia, kita akan jumpai bahwa
Sang Nabi juga menggunakan metode bercerita sebagai bagian tak
terpisahkan dari cara beliau membentuk para sahabat menjadi
manusia-manusia hebat. Beliau bercerita tentang si penjagal yang
bertaubat sebagai ibroh, agar kita tiada putus asa dari rahmat Allah.
Beliau riwayatkan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua
sebagai pelajaran, agar umatnya tahu cara keluar dari masalah. Beliau
juga pernah bercerita tentang si Buta dan kawan-kawannya, agar kita
cerdas mensyukuri karunia Ilahi.
Tradisi
bercerita ini kemudian tetap lestari dari generasi ke generasi, dari
para sahabat ke tabi’in, kemudian berlanjut kepada anak dan cucu mereka.
Mereka ceritakan riwayat hidup manusia pilihan Allah, Nabi Muhammad bin
Abdullah saw. Dengan bangga mereka ulang-ulangi bercerita tentang
kehidupan yang heroik itu, tentang kesabaran dan kesederhanaan, tentang
keberanian dan pengorbanan, tentang cinta dan kasih sayang, tentang
segala makna kebaikan dalam diri Rasulullah saw kepada anak-anak
mereka.
Mari
kita simak penuturan cucu-cucu sahabat Nabi saw, seperti yang ditulis
oleh Ibnu katsir di dalam al-Bidayah wa an-Nihayah. Isma’il bin Muhammad
bin Sa’ad bin Abi Waqqash, cucu dari salah seorang sahabat Nabi saw,
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Dahulu, ayahku menceritakan kepada kami
sirah Nabi saw dan mengulang-ulanginya kepada kami. Dan beliau berpesan,
ini adalah warisan leluhur kalian, maka jangan sekali-kali kalian lalai
mengingatnya.” Sementara Ali bin al-Husain, cucu dari sahabat Nabi saw,
Ali bin Abi Thalib mengungkapkan, “Dahulu kami mengajarkan sirah Nabi
saw, seperti kami mengajarkan al-Qur’an.” Demikian itu karena di dalam
kehidupan Nabi saw, seperti kata Imam az-Zuhri, terdapat ilmu akhirat
dan ilmu dunia.
Mari kita bercerita...
Karena
zaman terus berputar. Ayah dan bunda sudah lebih didominasi oleh
aktivitas kerja dan karir dibandingkan menemani si kecil bercerita.
Kesibukan di luar rumah, entah kerja, karir, mencari nafkah, agenda
dakwah dan lainnya membuat kita pulang hanya membawa peluh dan lelah,
hingga kita lupa ada hak mereka yang harus kita penuhi
Krisis
bercerita ini, mendatangkan dampak zamannya yang sangat buruk.
Anak-anak yang tidak pernah mendapatkan cerita, tidak dekat dengan
ayahnya dan jarang mendapatkan sentuhan mereka, akan cenderung mencari
cerita yang instan. Pada saat yang sama, kita jumpai seabrek sarana
berbagi cerita, seperti televisi, gadget, playstation, teman main dan
orang lain. Pertanyaannya, apakah kita mampu menjamin anak kita akan
mendapatkan asupan cerita yang positif dari sarana-sarana itu jika
mereka tidak dituntun?
Justeru
dari sinilah bermulanya masalah pelik yang menimpa anak-anak di negeri
tercinta ini. Tahun lalu, kita dikejutkan oleh satu berita yang
mengabarkan anak TK usia 5 tahun nekad loncat dari sebuah apartemen
lantai 19, gara-gara tidak diizinkan ibunya menonton Spiderman. Belum
lagi kriminalitas yang dilakoni oleh anak-anak di bawah umur, kasus
penyimpangan seksual, tindakan asusila, cara bicara dan bersikap, life
style yang mengekor gaya orang-orang yang tidak dirahmati Allah. La
haula wala quwwata illa billah...
Ayah mari bercerita...
Karena
dengan bercerita kita mampu menyentuh dinding-dinding hati anak-anak
kita. Mengulang-ulang suatu kisah adalah cara kita menekankan suatu
nilai tertentu sesuai dengan muatan moral kisah tersebut, kata Jim
Trelease.
Ceritakan
kepada mereka apa yang dahulu diceritakan oleh generasi terbaik umat
ini. Tentang pengorbanan Nabi Kita saw. Tentang kasih sayang dan cinta
beliau kepada umat ini. Tentang kehebatan orang-orang yang membersamai
beliau di jalan dakwah yang terjal. Riwayatkan kepada mereka tentang Abu
Bakar dan Umar, tentang Utsman dan Ali, tentang Asma’ dan saudarinya
Aisyah Ummul Mu’minin. Tentang orang-orang sholeh yang mampu menggenggam
dunia sehingga tidak menguasai hati-hati mereka. Ceritakan tentang masa
lalu sebagai bekal hari ini dan untuk membangun hari esok.
Selamat Bercerita....
Salam dari serambi Masjidil Haram
Ahmad Musyaddad Lc, MEI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar