Hidup Rukun dan Bersatu padu
(Suatu catatan dari Mimbar Masjidil Haram. Disarikan dari khutbah jum'at Syeikh Sholeh Humaid)
Adanya perbedaan selera dan rasa, daya tangkap dan kecerdasan, tabiat
dan karakter, serta tingkat kepuasan adalah sunnatullah dalam kehidupan.
Setiap orang memiliki persepsi dan pandangannya masing-masing. Dia
tidak dapat dikekang oleh siapapun. Seseorang tidak bisa memaksanya
untuk meyakini sesuatu yang tidak dia yakini. Sesuatu yang dianggap baik
buat seseorang, belum tentu baik pula bagi orang lain.
Sebagian
orang pantas hidup dalam keadaan berada, sebab jika dia miskin, boleh
jadi dia ingkar kepada Pencipta. Sebaliknya, ada juga yang patut hidup
dalam kondisi pas-pasan. Sebab jika dia kaya, boleh jadi itu menjadi
petaka baginya.
Sahabat..
Indahnya pelangi itu karena
warna-warni yang mengitarinya. Variasi warna yang membauri sebuah
lukisan, membuat ia semakin mempesona dipandang mata. Demikian halnya
jemari yang melengkapi tangan kita, diciptakan berbeda karena fungsinya
yang tidak sama.
Saudara. .
Dari sini kita bertolak, kita
menyadari bahwa perbedaan manusia sama sekali bukanlah agar seseorang
berbangga diri dari yang lain, satu suku merasa lebih baik dibanding
suku yang lain, ataupun satu pandangan dianggap lebih hebat dari
selainnya. Perbedaan itu tercipta, karena manusia perlu saling
melengkapi, saling bersinergi, berkompetisi dalam kebaikan dan saling
meringankan.
Sahabat...
Ukuran seseorang dikatakan lebih baik dari orang lain hanyalah karena TAKWA, tidak yang lainnya.
Sungguh sikap bijak itu adalah ketika kita mampu berinteraksi dengan
baik, berfikir terbuka dan tidak inklusif dengan keragaman yang ada.
Sebab keragaman itu adalah sunnatullah. Frame-frame yang sempit hanyalah
akan menghasilkan pilihan-pilihan sempit pula. Memahami orang lain
bukan berarti harus menerima pendapatnya. Jika anda tidak berbeda, tentu
orang lain juga tidak berbeda. Dan jika ada dua orang yang persis sama,
tentu salah satu dari keduanya tidak akan berguna.
Sahabat...
Kerukunan dan kondisi saling memahami itu lahir dari rasa persaudaraan
yang kuat, jiwa yang bersih, dada yang lapang, sikap senasib
sepenanggungan, cinta, kasih sayang dan saling bernasihat dalam
kebenaran dan kesabaran.
Kerukunan itu adalah pengakuan terhadap
eksistensi hidup di dalam bingkai masyarakat yang satu, tempat yang satu
dan keinginan yang satu. Kerukunan itu lahir karena adanya agama,
kewibawaan, rasa malu, harapan dan kekhawatiran yang sama.
Sahabat...
Siapapun kita, menanamkan sikap tenggang rasa dan hidup rukun adalah
pendorong prestasi dan cita-cita kita, baik secara pribadi maupun
kolektif. Dengan semangat ini kita mampu menyibak segala rintangan dan
hambatan yang ada di hadapan kita. Oleh karena itu, kita mesti berusaha
untuk senantiasa mengikat hati dan menyatukan jiwa.
Ada satu
kaidah yang mesti kita camkan di dalam konteks hidup bermasyarakat.
Bahwa mengambil hati itu jauh lebih didahulukan daripada menyatukan
sikap dan pandangan. Menyatukan hati itu lebih utama daripada menyatukan
gagasan.
Sahabat...
Mari kita bercermin kepada sirah Nabi saw.
Ketahuilah, bahwa syariat ini dengan seperangkat hukumnya tidaklah
turun, melainkan setelah masyarakat muslim (Muhajirin dan Anshar) sudah
berada dalam kondisi stabil, berbaur dengan seluruh entitas yang ada di
Madinah. Para ulama menyebut, bahwa salah satu dari maqashid hijrah
adalah untuk membangun tatanan masyarakat islami yang bernaung di bawah
naungan Negara Islam.
Masyarakat Madinah saat itu adalah cerminan
masyarakat yang hidup rukun, meskipun ada perbedaan keyakinan di
dalamnya. Di sana ada kaum muslimin, orang-orang munafik, Yahudi dan
lainnya.
Bahkan ketika orang-orang munafik sudah kelewat batas di
dalam menistakan Islam, para sahabat meminta izin kepada Nabi untuk
memerangi mereka, namun sang Nabi saw hanya berkata, "Aku khawatir
orang-orang kafir itu nanti akan berkata bahwa Muhammad membunuhi
sahabatnya sendiri". Betapa agungnya ungkapan ini.
Potret
kehidupan para sahabat adalah contoh sangat ideal bagi sikap saling
memahami dalam keberagaman. Mereka menutup rapat aib saudaranya. Tidak
ada tindakan mencari-cari cacat dan salah orang lain. Mereka
berkonsentrasi membimbing manusia menuju jalan petunjuk.
Mereka
tidak suka mengumbar kesalahan para ulama. Jikapun itu harus dilakukan,
maka hal itu untuk menjelaskan kebenaran, dan dalam konteks tarjih
(memilih yang lebih tepat) bukan tajrih (menjatuhkan nama baik).
Bahkan sang Nabi saw pernah bercerita bahwa beliau pernah menyaksikan
satu kesepakatan yang lahir dari sebuah koalisi tokoh-tokoh Quraish.
Beliau bertutur, "Aku menyaksikan suatu koalisi di rumah Abdullah bin
Jud'an. Koalisi semacam ini lebih aku sukai daripada unta merah (harta
yang sangat berharga). Kalaulah di dalam (masa) Islam aku diajak untuk
mengikutinya, maka sungguh aku akan menghadirinya." Koalisi tersebut
tiada lain menghasilkan kesepakatan untuk membantu orang yang terzalimi,
menjaga hak masyarakat, memelihara kemaslahatan umum dan menolong orang
yang lemah.
Sahabat...
Berinteraksi secara bijak itu
adalah bergaul dengan semua lapisan masyarakat, tidak terbatas pada
agama maupun mazhab tertentu. Sebab diperlakukan dan dimuamalahi secara
baik merupakan hak semua orang. Allah berfirman, "Katakanlah kebaikan
bagi manusia" (QS. Al-Baqarah: 83)
Bermuamalah dengan bijak itu
memerlukan kelembutan, sikap adil, senyum, santun, prasangka baik,
penghormatan dan penghargaan kepada orang lain. Sebab anda tidak mampu
menjaga diri anda sendiri, jika anda tidak memelihara saudara dan
sahabat anda. Seseorang itu kecil dengan kesendiriannya, namun ia besar
bersama saudara-saudaranya.
Kehidupan ini tegak karena adanya
harmoni dari keberanekaragaman makhluk, bukan dengan homogenitas dan
individualisme. Usaha menyamaratakan manusia dengan satu corak
pemikiran, satu model cara pandang dan menafikan keberagaman adalah
menyelisihi sunnatullah. Adapun membuka dialog dan diskusi, saling
memahami dan sharing wawasan bukanlah dalam rangka mendikte dan
memaksakan pendapat.
Sahabat, semoga kita dapat bersikap bijak
dengan keberagaman yang ada, saling memahami dan merespon semuanya
selalu dengan bingkai al-Quran dan bimbingan Nabi saw.
SEKIAN
Serambi Masjidil Haram, 24 Jumadal Ula 1437 H
Ahmad Musyaddad Lc.MA